Salon Mobil Jogja

Lebih Irit Mana Mobil LCGC atau Mobil Listrik ?

Ada satu fakta dibalik mobil LCGC dan mobil listrik yang harus kamu terima dengan sukarela yaitu keduanya adalah mobil ngirit. Jelas lebih ngirit dibandingkan jenis mobil apapun. Meski keduanya sama2 bikin kantong tidak boncos, tapi pasti ada yang jauh lrbih menonjol. Kira-kira siapakah dia ?


Lebih Irit Mana Mobil LCGC atau Mobil Listrik ?

Saat ini pilihan mobil di Indonesia makin beragam. Selain mobil LCGC (Low Cost Green Car) yang terkenal hemat bahan bakar, kini hadir juga mobil listrik yang digadang-gadang lebih ramah lingkungan sekaligus efisien. Lalu muncul pertanyaan, lebih irit mana antara mobil LCGC dengan mobil listrik?

Mobil LCGC: Hemat BBM dengan Harga Terjangkau

Mobil LCGC diciptakan untuk masyarakat yang butuh mobil murah, hemat, dan efisien. Rata-rata konsumsi bahan bakarnya bisa tembus 18–22 km per liter, tergantung kondisi jalan dan gaya berkendara. Dengan harga bensin misalnya Rp 10.000 per liter, biaya per kilometer sekitar Rp 450–550.

Keunggulan lain LCGC adalah harga beli lebih murah dibanding mobil listrik. Selain itu, infrastruktur untuk mobil berbahan bakar bensin sudah sangat matang. Stasiun pengisian bahan bakar ada di mana-mana, jadi pengguna tidak khawatir kehabisan energi di perjalanan.

Mobil Listrik: Efisiensi Tinggi, Biaya Operasional Murah

Mobil listrik menggunakan tenaga baterai yang diisi ulang. Dari berbagai data, rata-rata konsumsi energi mobil listrik adalah sekitar 10–12 kWh untuk jarak 100 km. Jika harga listrik rumah tangga Rp 1.700 per kWh, maka biaya per kilometer hanya sekitar Rp 170–200. Artinya, lebih murah hampir setengah dari LCGC dalam hal biaya energi.

Selain itu, mobil listrik punya keunggulan lain: lebih senyap, akselerasi halus, dan tidak menghasilkan emisi gas buang. Dari sisi perawatan, mobil listrik juga lebih simpel karena tidak ada oli mesin, busi, atau sistem knalpot.

Mana yang Lebih Irit?

Kalau bicara biaya operasional, jelas mobil listrik lebih irit dibandingkan mobil LCGC. Bayangkan, dengan biaya yang sama, mobil listrik bisa menempuh jarak hampir dua kali lebih jauh.

Namun, dari sisi harga beli awal, mobil LCGC lebih unggul karena harganya masih jauh lebih murah daripada mobil listrik yang rata-rata di atas Rp 200 juta. Selain itu, infrastruktur pengisian listrik (SPKLU) belum merata, sehingga pemilik mobil listrik harus punya akses charger di rumah atau tempat tertentu.

Kesimpulan

Jadi, lebih irit mana? Mobil listrik lebih irit dari segi biaya energi, tapi mobil LCGC masih unggul dari sisi harga beli dan ketersediaan infrastruktur. Pilihannya kembali ke kebutuhan dan kondisi masing-masing pengguna.

 

Exit mobile version